"You have careers to launch, debts to pay, spouses to meet and marry. That’s enough for now. But in the course of your lives, perhaps without any plan on your part, you’ll come to see suffering that will break your heart. When it happens, and it will, don’t turn away from it; turn toward it. That is the moment when change is born.”

Well spoken! :)

I’m not your pride daughter

Yogyakarta May 4th 2014, on my way back to Jakarta

All bags were packed. I still had another 1 hour prior to my departure to spend. But the fact was I still didn’t want to back to reality. This place is too comfortable to spend to cuddle with the people I love.

“Anything you want to add?” Mum shocked me.

“No mum, it’s all enough”

“Mbak, once again I want to remind you. This year your age will be 23. Therefore, don’t be so close minded and too picky if there is any man approaching you.” She suddenly said that without any introductory in advance. I definitely could see the reason why she suddenly said this through her eyes. It’s the pressures she gets from society: “When your daughter will get married?”

But then I think probably it’s more into post-wedding-party-of-her-bff’s-daughter-syndrome. Her daughter incidentally is my bff also since we were kid and we have same age. Moreover, another childhood bff just gave birth an adorable son while I was in town.

For the past 17 years, I spend a life in a society which known very religious, harmony, and well-bonded. So many forums conducted such as a meeting, pengajian, arisan, etc to strength the bond among inhabitants. I actually grateful that my family live in this kind of environment. They are very helpful and open-handed anytime we need. But because they are very close each other, one thing I hate from this environment is they also mind another people business especially when it comes to personal life in so many levels (kepo). No wonder why my mum also easily following the current. They easily judge another life when it doesn’t match with common life. They believe in mainstream values. For example, when I heard that my childhood friend decided to follow his husband’s faith, all the people easily cursed her and spread hatred to her family as her parents failed to educate her. I saw this trend is annoying. They think their religious is the best religious but their behavior doesn’t speak as what their religion taught. Hello people, who teach you to be so that intolerance?

“Mbak, you don’t know how proud dad of you is. You have successfully proved that you never disappointed us since you were in school. Either academically or another aspect of life. Now you already enjoy the result of your hard work. You can get anything you want without any help of us. Therefore if you want to get married now, just married. We will not mind for it. Because you know, so many people asked me and frankly I don’t know what to answer. Even you seems never tell me your love life.”

Dear mum, through this post I don’t intend to preach you. Beside I don’t have any capacity for this, I know I don’t have any experience to deal with this in life. But let me to explain what I actually really want in this life.

  1. We live only once. I don’t want to waste my life to fulfill other people’s expectation. I own my own life. I am trained enough to be pretend deaf when it comes to something that I really don’t want to do. Believe me, actually society will never pleased us.
  2. Marriage is about commitment. I can’t bear any consequences if I’m not 100% ready for it.
  3. Don’t get me wrong, I also want to married. I want an offspring in a respectable way. But to be honest, I don’t have any deadline when I have to married and I don’t want to limit myself for that. For now maybe I still don’t want but I believe that it could change especially if I already meet the one I want to spend my rest of life with.
  4. I’m not as picky as other people think. As long as we can accept each other, click, and hold the same values, I don’t mind to accept his proposal. I believe time would answer.
  5. As long as I’m still single, I will live my life to the fullest as I expect. I want to travel the world, I want to pursue my dream job, I want to live in my dreams. Because when I already have a family, I will dedicate my time for family more than anything.
  6. Don’t expect too much on me. I must admit I’m not your pride. I can’t live as your expectation. I’m so sorry.

Sincerely,

Your naughty little girl.

"In the heat of summer sunshine I miss you, like nobody else. In the heat of summer sunshine I kiss you, and nobody needs to know."
- The Corrs, Summer Sunshine
This ia super cute, omg! 😍🎓👩👶👨

This ia super cute, omg! 😍🎓👩👶👨

Trust Me, LDR is easy

Jakarta itu keras. Begitulah yang terlintas di benakku ketika kupandangi wajah ibukota dari lantai 30 Rumah Sakit Siloam. Suara klakson dan knalpot adalah alunan musik bagi mereka yang terbiasa menghabiskan hidupnya di jalanan. Bangunan gedung perkantoran menjulang tinggi seolah menantang mereka yang tengah berusaha menari di antara terjangan badai metropolitan. Tak terkecuali aku. Tanpa terasa setahun lebih angin membawaku ke kota ini setelah lulus kuliah. Enam tahun sudah kutinggalkan nyamannya kota kelahiran dan kehangatan keluarga, banyak kota sudah kusambangi, namun derap kaki kota ini begitu lain. Aku sadar bahwa aku telah melangkah begitu jauh. 

Bau aromatheraphy ruangan ini begitu damai. Sejenak aku dapat melupakan rutinitas kantorku karenanya. Sehari-hari aku ditemani oleh Suster Fanny. Ia termasuk suster senior di rumah sakit ini. Selain rutin meyediakan makan dan mengganti cairan infusku, ia juga menjadi pendengar setiaku selama dirawat disini “kapan ayahmu kesini?” “kamu pasti kangen keluargamu?” “mana pacarmu?” 

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan terakhir Suster Fanny.

Tak lama kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Walau jarang bertemu, namun aku dapat mengenali dengan baik orang itu. Ia adalah seorang ekspatriat Singapura yang kini tengah bekerja di salah satu Bank Singapura cabang Indonesia. Kantornya memang tak jauh dari rumah sakit ini. Sudah setahun aku mengenalnya. Usianya sekitar 10 tahun lebih tua dari ayahku. “Hai Om James! Mari silakan masuk. Apakabar?” begitu sapaku. 

Penampilannya benar-benar mengingatkanku akan putra bungsunya. Mulai dari Jam tangan dan sepatu yang beliau kenakan, model celana, hingga bau parfumnya pun sama persis. Selera yang sama. Buah yang jatuh memang tak pernah jauh dari pohonnya. 

“Baik, gimana Hana sudah sehat?” kata-kata yang mampu memunculkan rasa optimis. Sejak aku diperkenalkan padanya, Ia begitu perhatian padaku. Tak heran perhatiannya yang begitu besar padaku membuat kedua putranya iri. Mungkin karena beliau juga sangat ingin memiliki anak perempuan. Karena itu aku juga tak segan menganggapnya sebagai ayahku sendiri. 

“How is your graduate school application going?” 

“I just registered for GRE 2014” 

“Nice!” 

Sejenak kami terdiam, tak lama kemudian……………… 

“Btw, kamu yakin masih mau melanjutkan sekolah di USA?” 

Kata-kata itu begitu menohok. Seakan ia tak peduli bagaimana kondisiku. 

“Ketahuilah Om, menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam adalah cita-citaku dari kecil. Terlebih untuk sekolah ataupun mencicipi pengalaman kerja di sana. Bisa dibayangkan bahwa aku membangunnya selama bertahun-tahun. Siapapun itu tak akan kubiarkan siapapun merobohkan cita-cita ini, kecuali takdir Tuhan.” 

“Berarti kamu masih mencintai John kan?” 

Airmataku tak terbendung ketika Om James menanyakan pertanyaan itu. Misi ku untuk move on seketika gagal. 

“Maaf jika sekiranya om kelewatan. Om bisa merasakan bagaimana rasanya gagal membangun sebuah hubungan.” 

“Bukannya nggak bisa move on om, saya cuma heran. Kalau benar John mencintai saya, masih menanyakan kabar saya, dan masih stalking akun social media saya, mengapa dia memilih wanita lain? Saya rasa lelaki yang demikian akan lebih cepat melupakan daripada menjadi polisi media sosial.” 

“Ketahuilah Hana, New York itu keras. 10x lebih keras dari Jakarta. Wanita bisa saja bertahan dalam Long Distance Relationship sejauh apapun itu, namun tidak bagi pria.” 

“Berarti benar ya apa kata orang. Cuma ada 2 tipe pria di dunia ini: kalau nggak homo, ya brengsek.”

Om James terlihat kehilangan kata-kata. Kali ini ia lebih banyak membela John dibandingkan membelaku seakan beliau masih menginginkan agar kami dapat kembali bersama lagi. 

“Ini memang bukan John yang om kenal juga. Ketahuilah apa yang sesungguhnya terjadi. Ia tidak mencintai Jenny.” 

Aku tak sepenuhnya percaya pada pernyataan itu. 

“Dari awal pun kami sudah memulai sesuatunya secara Long distance. Sebelumnya saya juga pernah memiliki hubungan jarak dekat yang juga gagal. Keduanya memiliki isu yang sama. Masalah kepercayaan.” 

Om James menganggukkan kepalanya. 

“Banyak pasangan yang baru LDR beda kota-satu negara sudah mengeluh. Bahkan ada teman saya yang ‘hanya’ LDR sebatas Jakarta-Bandung saja sering galau. Saya juga bukan tipe orang yang selalu mengharapkan setiap hari harus berkomunikasi, saya tahu graduate school life is tough. Bukannya sombong atau sok kuat, tapi bagi saya LDR actually is easy. It just a matter of place and timezone. But the fact the the matter is the trust. Trust is needed in every kind of relationship. Entah itu hubungan dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, dengan siapapun. Saya merasa kegagalan terbesar terjadi ketika saya gagal membangun hubungan dengan Tuhan, keluarga, sahabat, teman kerja, dengan siapapun itu. Pacaran jarak dekat juga belum tentu menjamin nggak bakal selingkuh. Yang sudah sah suami-istri pun juga nggak bisa luput. Makanya bagi saya, trust is priceless. Mengapa John memilih Jenny dan meninggalkan saya jika memang dia tidak mencintai Jenny?” 

Suster Fanny mengetuk pintu seraya mengingatkan bahwa jam besuk telah usai. Om James terlihat sedih. Ia masih belum menyerah untuk membuatku dan John kembali bersama. Namun aku juga masih pada pendirianku.

“Good luck on your dreams! See you!” 

Suster Fanny merentangkan selimut baru kepadaku. “Mbak Hana, biasanya orang kalau capek badan atau capek pikiran kalau habis bangun tidur capeknya ilang sketika lho. Mbak Hana terlhat capek, silakan beristirahat ya. Nanti kalau kenapa-kenapa panggil saya lagi.” 

—————————————-

Keesokan harinya, bersamaan dengan hadirnya Ibu dan Ayah ke rumah sakit, Dokter Riady dan Suster Fanny mengabarkan bahwa aku sudah boleh pulang. Betapa bahagianya aku hari itu. Sehat memang mahal, namun sepertinya aku bakal rindu dengan Suster Fanny dan ketulusannya selama menjagaku di Rumah Sakit ini. 

I’m gonna miss you, Suster! 

Buket mawar merah impor yang biasa kulihat di pertokoan elit, dimana kadang saat melihatnya aku hanya dapat gigit jari, kali ini aku putuskan untuk meninggalkannya di kamar rumah sakit. Kutinggalkan mereka seiring dengan keinginannku melupakan John. 

I’m moving on. I hope I deserve better. 

+628111361***
Jadi, kapan nih om diperkenalkan sama pacar barunya? Sering berkabar ya Hana!

+6281328***
Halo om James, mohon doanya saja om :)